Dialog dalam sebuah karangan fiksi berfungsi sebagai penggerak cerita
selain berguna juga untuk memperkuat karakter tokoh dalam cerita.
Selain itu, dialog juga dapat membuat cerita menjadi lebih dinamis.
Dialog antar tokoh dalam cerita apabila dikemas bisa pula menjadi “cara
halus” untuk menyampaikan pesan-pesan moral tanpa terkesan menggurui.
Berikut ini adalah beberapa kesalahan yang berhubungan dengan penulisan dialog:
1. Menulis dialog dengan kalimat-kalimat indah dan bersajak. Dialog
semacam ini memang cocok bagi karakter tokoh yang memang suka berpantun,
namun kurang tepat bila dikenakan pada tokoh yang hidup di lingkungan
metropolitan yang berbicara serba ringkas dan cepat. Pelajaran pertama
dalam membuat dialog adalah membuatnya tampak nyata seperti layaknya
orang yang berbicara dalam konteks nyata. Untuk itu, penting kiranya
bagi para penulis untuk aktif mendengarkan percakapan orang-orang serta
dialek atau diksi apa yang sering diucapkan oleh orang-orang dengan
suatu karakter tertentu. Perlu juga untuk melafalkan dialog Anda dengan
suara keras untuk mengecek apakah dialog itu terdengar enak di telinga
dan sudah seperti layaknya percakapan yang nyata.
2. Mengulang-ulang maksud dalam beberapa potong kalimat. Meskipun
dialog sedapat mungkin dibuat agar nyata, namun dialog yang bertele-tele
akan membosankan pembaca. Cukup membuat satu kalimat saja untuk
menyampaikan sebuah maksud spesifik. Hal ini tentunya akan berlaku lain
apabila Anda dengan sengaja ingin menciptakan kesan tokoh yang peragu
atau obsesif kompulsif. Namun demikian, terlalu banyak efek justru akan
berbalik menjadi bumerang bagi Anda. Dialog yang terlalu panjang juga
akan menghambat pergerakan cerita. Jadi rumusnya, bijaksanalah dalam
menuliskan dialog.
3. Tidak memperhatikan siapa yang berbicara apa. Sering kali kita
mendapatkan beberapa dialog ditumpukkan tanpa menyebutkan siapa yang
berbicara, seperti contohnya di bawah ini:
“Kamu kemarin pulang jam berapa?”
“Jam satu, kenapa?:
“Oh, tidak aku hanya penasaran siapa yang membuka pintu kulkas sekitar jam dua belasan…”
“Kamu yakin mendengar suara itu?”
“Ehm, iya. Tapi sekarang aku jadi agak ragu.”
“Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan hantu yang menjaga rumah ini?”
Ini sah-sah saja apabila kebetulan dialog itu hanya terjadi antara dua
orang tokoh. Namun apabila tokoh yang ada lebih dari dua orang maka
ceritanya jadi lain. Jika penulis tidak mencantumkan siapa yang
berbicara, pembaca mungkin menjadi bingung untuk mengidentifikasi si
pembicara. Namun terlalu banyak memberikan nama juga dapat menjemukan.
Hal ini bias diakali dengan cara menyelinginya dengan tanda-tanda yang
mengarah kepada totkoh tertentu. Seperti misalnya di bawah ini:
“Kamu pasti lupa membawa buku itu!” Tuduh Andi.
“Buku apa?” Tanya balik Rizal sambil memainkan rambutnya yang ikal.
“Buku harian Bu Nindi, Bodoh!” Andi tidak dapat menahan amarahnya.
“Oh itu…” Jawab si pemilik rambut ikal itu dengan enteng.
4. Menggunakan “dia” secara tidak cermat sehingga membuat pembaca
bingung “dia” tersebut mengacu pada siapa. Hal ini sering terjadi pada
dialog yang menceritakan beberapa orang. Ketika si tokoh mengatakan
“dia” sebaiknya secara tepat mengacu pada sasaran yang dituju, seperti
contoh di bawah ini:
“Kemarin aku bertemu dengan Dinda. Ia jalan sama cowok lain. Tahu nggak siapa orang itu? Dito! Dito yang itu…., Na!”
“Apanya yang heboh? Dia kan emang terkenal suka gonta-ganti pacar, kan?”
5. Melekatkan gaya berbicara yang sama kepada setiap tokoh. Tentunya
setiap tokoh memiliki karakter unik. Keunikan itu juga salah satu di
antaranya tercermin dari cara si tokoh tersebut berbicara. Penciptaan
cara berbicara yang menjadi trademark, entah itu dari pemilihan diksi
atau dialek, bagi seorang tokoh tertentu bisa membuat kehadirannya
menjadi nyata.
6. Terlalu kaku dalam menggunakan narasi pengantar. Narasi pengantar
yang umumnya digunakan adalah ”kata”, ”ujar”, ”tanya”, dan ”perintah”.
Seperti contoh di bawah ini:
”Kita akan pergi besok,” ujar bapak.
”Pergi ke mana?” Tanyaku.
”Ke tempat kelahiran ibumu,” kata bapak.
Cobalah untuk mengeksplorasi istilah-istilah yang lain seperti misalnya:
”kilah”, ”lanjut”, ”potong”, ”tebak”, ”gumam”, ”bisik”, dll.
7. Menulis dialog terlalu panjang. Terkadang sebagai seorang penulis,
kita tidak sabar untuk menyampaikan begitu banyaknya informasi kepada
pembaca sehingga tanpa sadar dialog si tokoh jadi mengembang. Sebenarnya
dialog yang panjang berpotensi besar untuk membunuh ketertarikan orang
dalam membacanya tuntas. Panjangnya dialog juga bisa membuat suasana
eksternal (setting, waktu, dll) yang coba untuk dibangun oleh si penulis
menjadi kabur. Jika seandainya dialog memang dibutuhkan panjang, maka
seyogyanya untuk memenggalnya menjadi beberapa bagian.
“Aku percaya ada beberapa orang yang ditakdirkan berbakat secara
supernatural. Misalnya aku yang juga dianugerahi bakat cenayang. Namun
aku pun masih tetap harus belajar untuk menajamkan kemampuanku. ….”
Cassandra mengambil beberapa bendel dokumen dari dalam tas kerjanya.
“Menurut dokumen ini, ada beberapa macam cenayang –yang kutahu–
dilihat dari cara mereka menangkap pesan dan mendeteksi keberadaan
fenomena supernatural….,” sambung Cassandra. (Dipetik dari Novel ORB:
Galang Lufityanto)
8. Hanya mengandalkan dialog saja untuk menciptakan situasi yang
diinginkan. Penggunaan dialog yang terlalu sering, tanpa diselingin jeda
penjelasan narasi, akan membuat alur cerita berjalan dengan cepat. Gaya
seperti ini cocok untuk cerita detektif atau thriller. Namun untuk
cerita yang sifatnya lebih umum, gaya seperti ini tidak selalu cocok.
Kekurangan dari gaya dialog yang sambung-menyambung adalah kurang
dalamnya pelukisan tentang situasi yang tengah terjadi. Contoh:
”Pak Hugo, mengapa Anda harus membawa..ta..tas itu? Bukannya malah
semakin berat?” Tanya Roni merasa aneh melihat Hugo memanggul tas besar
yang diikatkan dengan erat pada tubuhnya.
“Oh…, ini?” Hugo menjawab di sela-sela napasnya yang memburu. “Kupikir ini akan bisa menyelamatkanku nantinya. Siapa tahu?”
Sementara itu mereka bertiga berlari semakin jauh ke dalam hutan.
Malam sudah sedemikian pekat sehingga Hugo dan Rani hanya bisa
mengandalkan senter dan Cassandra yang berlari mendehului mereka, dan
yang secara tidak langsung telah membukakan jalan bagi mereka berdua.
Cassandra melompati akar sebuah pohon yang melata lumayan tinggi di atas
permukaan tanah dengan lihai seakan-akan hutan ini adalah taman bermain
Cassandra sejak kecil. Hugo dan Roni lagi-lagi dibuat terpukau oleh
kemampuan wanita ini.
”Seno!!” Teriak Cassandra.
Sayup-sayup terdengar suara.
”Di sini…..” (Dipetik dari Novel ORB: Galang Lufityanto)
Dengan menyelipkan beberapa pokok narasi (dalam contoh: Sementara itu
mereka…..) di antara baris-baris dialog, pembaca dapat melihat adegan
cerita sebagai suatu keseluruhan: karakter beserta situasi di
sekelilingnya. Ini membuat pembaca mendapat bayangan yang jelas tentang
adegan yang berlangsung dan merasakan emosi yang berusaha dibangun oleh
si penulis.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar