Kemungkinan bisa menjalar ke semua daerah, berdasar keterangan Prof Dr Sumali Wiryowidagdo Apt, Kepala Pusat Studi Obat Bahan Alami, Departermen Farmasi Fakultas MIPA Universitas Indonesia (UI), Rabu, 21 Maret. Menurutnya, pola penyebaran tomcat ini mirip-mirip dengan serangan ulat bulu yang sempat heboh beberapa waktu lalu.
Menurut Sumali, pola penyebaran bukan berantai berdasarkan kedekatan dengan Surabaya. Melainkan, bisa terjadi di mana pun yang terdapat tanaman yang menjadi makanan idola serangga tomcat itu.
"Seperti serangan ulat bulu dulu itu, di daerah mana pun, jenis tanaman yang dihinggapi sama," ujar Sumali.
Hanya saja, Sumali mengaku tidak tahu jenis tanaman apa yang menjadi sasaran tomcat, serangga berwarna hitam orange itu. Yang pasti, lanjutnya, serangga itu habitat awalnya di kawasan-kawasan pertanian, pinggir-pinggir sungai, dan daerah berawa.
Karena sudah sulit menemukan makanan di habitatnya, tomcat hijrah ke permukiman penduduk, mulai dari desa dekat kawasan pertanian, hingga masuk ke kawasan perkotaan. Sebenarnya, kata Sumali, tomcat bukan menyerang manusia. "Hanya karena jumlahnya banyak, ada yang hinggap di tubuh manusia," ujarnya.
Bagaimana cara mengatasi jika ada tomcat hinggap di tubuh manusia? "Jangan dipukul. Tapi cukup diusir dengan cara halus sehingga dia tidak merasa terganggu. Kalau merasa terganggu dia mengeluarkan semacam enzim yang bisa menyebabkan kerusakan kulit, panas dan melepuh," saran dia. Sedang kalau dipukul, otomatis tubuhnya pecah dan enzimnya menempel di kulit.
Jika sudah telanjur kena cairan tomcat bagaimana? Sumali mengatakan, cepat-cepat saja bagian kulit yang kena cairan itu disiram dengan air dan jangan digosok. "Kalau bisa kasih insektisida alami yakni minyak serai," ujarnya. Minyak serai adalah minyak atsiri yang diperoleh dengan jalan menyuling bagian atas tumbuhan tersebut.
Panjang tubuh serangga tomcat, sekitar satu milimeter hingga 35 milimeter dengan perpaduan warna orange dan hitam. Bila dilihat sekilas, bentuknya seperti semut dan kalajengking namun memiliki sayap. (jpnn/yun)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar